Ditulis oleh:
Universitas Negeri Semarang
βPertanyaan menentukan arah pikiran. Kita sering menganggap orang yang pintar adalah orang yang punya banyak jawaban. Padahal kemampuan yang tak kalah penting adalah tahu pertanyaan apa yang harus diajukan.β
Bayangkan dua orang menghadapi masalah yang sama.
Orang A: "Kenapa ini gagal?"
Orang B: "Apa yang sebenarnya ingin kita capai, dan bagian mana yang paling menghambat kita?"
Keduanya sama-sama bertanya. Tetapi pertanyaan kedua membuka kemungkinan yang jauh lebih besar. Karena: Pertanyaan menentukan arah pikiran.
Warren Berger membahas bagaimana pertanyaan yang lebih baik dapat memicu kreativitas, inovasi, dan perubahan cara berpikir.
Video: Warren Berger
Ketika kamu bertanya: "Kenapa saya selalu gagal?" otak akan mencari bukti tentang kegagalan.
Tetapi ketika kamu bertanya: "Apa yang bisa saya pelajari dari kegagalan ini?" otak mulai mencari pelajaran, strategi baru, dan pola.
Situasinya sama. Yang berubah hanya pertanyaannya.
Bayangkan pikiran seperti mesin pencari. Pertanyaan adalah kata kunci pencariannya.
Kalau bertanya "Siapa yang salah?" otak mencari tersangka.
Kalau bertanya "Bagaimana kita memperbaikinya?" otak mencari solusi.
"Kamu ngerti, kan?"
Jawaban paling mudah: "Iya." Selesai. Pertanyaan ini hanya mencari persetujuan.
"Bagian mana yang menurutmu masih belum jelas?"
Orang dipaksa untuk berpikir. Pertanyaan ini mencari informasi.
Ada Question to Impress (bertanya agar terlihat pintar) vs Question to Understand (bertanya karena benar-benar ingin paham).
Jangan takut bertanya sederhana. Karena pertanyaan sederhana yang tepat sering lebih berguna daripada pertanyaan rumit yang tidak perlu.
Dasar tapi sangat kuat. Daripada tanya "Kenapa pesertanya sedikit?", pecah jadi:
WHAT: Apa sebenarnya target kita?
WHO: Siapa target peserta?
WHEN: Kapan pendaftaran mulai sepi?
WHERE: Dari kanal mana peserta biasanya datang?
WHY: Mengapa mereka tidak tertarik?
HOW: Bagaimana cara meningkatkan pendaftaran?
Teknik Five Whys. "Kenapa belum selesai?" -> "Karena sibuk." -> "Kenapa sibuk?" -> "Karena tidak buat prioritas."
Masalah permukaan: tugas belum selesai. Masalah mendalam: manajemen prioritas.
Kadang terdengar seperti interogasi. Ganti dengan: "Apa yang membuatmu memilih cara tersebut?"
Daripada "Kenapa kamu tidak setuju?" coba "Apa yang membuatmu kurang setuju?"
Dan ketika seseorang memberi 2 opsi, tanyakan "Apa lagi yang mungkin?". Jawaban pertama jarang jadi jawaban terbaik.
"Kalau budget bukan masalah, acara idealnya seperti apa?" Ini memisahkan VISI dari KETERBATASAN. Setelah dapat visi ideal, baru tanya: "Dari versi ideal ini, mana yang masih realistis dilakukan?"
Reframing adalah mengubah cara melihat masalah.
Pertanyaannya berubah. Cara berpikir ikut berubah.
Merasa gagal?
Ganti "Kenapa saya gagal?" β "Apa yang bisa saya pelajari?"
Takut?
Ganti "Bagaimana kalau gagal?" β "Apa yang bisa dilakukan untuk mengurangi risikonya?"
Iri?
Ganti "Kenapa dia bisa, saya tidak?" β "Apa yang bisa saya pelajari dari perjalanannya?"
Pembicara yang baik mengajukan pertanyaan retoris: "Pernahkah kalian merasa..." Audiens berpikir "Pernah". Mereka pun terlibat.
Jangan cuma tanya "Kerja di mana?". Coba: "Apa yang membuat kamu tertarik masuk bidang itu?" Percakapan jadi lebih bermakna.
Saat ditanya "Ada pertanyaan?", coba jawab: "Menurut Bapak/Ibu, tantangan terbesar di posisi ini apa?"
Daripada "Bisa naik sedikit?", coba: "Apa saja yang bisa disesuaikan agar scope dan budget lebih seimbang?"
Pemimpin buruk: "Kenapa belum selesai?"
Pemimpin baik: "Apa yang menghambat? Apa yang kamu butuhkan dari saya?" Pemimpin tidak langsung memberi jawaban, tapi membantu orang menemukan jawaban.
Gunakan ini saat menggali masalah:
| β Pertanyaan Lama | β Pertanyaan Lebih Baik |
|---|---|
| "Kenapa gagal?" | "Apa yang menyebabkan hasilnya belum sesuai harapan?" |
| "Kamu ngerti?" | "Bagian mana yang masih belum jelas?" |
| "Kenapa kamu marah?" | "Apa yang membuatmu merasa kesal?" |
| "Bisa nggak?" | "Apa yang diperlukan agar ini bisa dilakukan?" |
| "Siapa yang salah?" | "Apa yang menyebabkan masalah ini?" |
| "Kenapa nggak mencoba?" | "Apa yang membuatmu ragu untuk mencoba?" |
| "Mau ikut?" | "Apa yang membuatmu tertarik atau tidak tertarik ikut?" |
| "Bagus nggak?" | "Bagian mana yang menurutmu paling kuat?" |
| "Apa solusinya?" | "Pilihan apa saja yang kita punya?" |
| "Kenapa begini?" | "Apa yang terjadi sampai situasinya menjadi seperti ini?" |
βOrang yang cerdas mungkin mampu memberikan jawaban.
Tetapi orang yang memiliki seni bertanya mampu menemukan pertanyaan yang membuat jawaban baru muncul.β
Ketika menghadapi masalah, jangan langsung bertanya: "Apa jawabannya?" Cobalah bertanya: "Apakah saya sudah mengajukan pertanyaan yang tepat?" Karena sering kali kita bukan kekurangan jawaban, kita hanya belum menemukan pertanyaan yang tepat.
Uji pemahaman diri Anda lewat kuis singkat terkait topik ini.
Ambil Kuis Sekarang